EMPAT (4) HAK DASAR ANAK INDONESIA : Hak Hidup Lebih Layak - Hak Tumbuh dan Berkembang - Hak Perlindungan - Hak Berpartisipasi

Mengenal Sifat Bias Pribadi

Kategori : Artikel Psikologi Senin, 28 Agustus 2017 - Oleh admin

MENGENAL BIAS PRIBADI

Pengalaman kita berinteraksi dengan orang lain membentuk penilaian kita terhadap orang tersebut. Interaksi kita dengan masing-masing orang tentunya menghasilkan pengalaman yang berbeda. Ada pengalaman yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Ketika mendapatkan pengalaman yang menyenangkan, kita cenderung memberikan penilaian yang positif. Begitu pula sebaliknya, jika kita mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan, maka kita cenderung memberikan penilaian negatif. Secara tidak sadar kita mengaitkan pengalaman dan penilaian ini dengan latar belakang orang yang kita temui, misalnya dengan jenis kelamin, status sosial-ekonomi, pekerjaan, pendidikan, suku, agama, dan lain-lain. Sebagai contoh ketika kita mengalami peristiwa traumatis dari seseorang yang kebetulan adalah petugas keamanan, semenjak saat itu kita menganggap semua petugas keamanan kasar. Di sini kita mengalami bias dengan menggeneralisir semua petugas kemanusiaan negatif, dalam hal ini kasar.

Bias juga bisa terjadi tanpa kita harus mengalaminya secara langsung. Informasi yang kita dapatkan secara tidak langsung tentang orang dengan latar belakang tertentu, juga bisa membentuk penilaian dan sikap kita terhadap mereka. Pengalaman orang lain yang dinilai signifikan dijadikan dasar penilaian. Hal inilah yang akan membentuk terjadinya prasangka.

Prasangka adalah sikap terhadap salah satu anggota suatu kelompok yang didasarkan atas asal-muasal atau keanggotaannya pada kelompok tersebut. Kelompok ini dapat berupa kelompok jenis kelamin, ciri-ciri fisik, suku bangsa, agama, status sosial-ekonomi, pekerjaan dan lain-lain. Prasangka umumnya bersifat negatif meskipun tidak semua prasangka negatif. Misalnya kita mengira bahwa semua orang yang berprofesi sebagai pekerja kemanusiaan bekerja tanpa kenal waktu dan tegar. Padahal pekerja kemanusiaan adalah manusia biasa yang tentunya butuh untuk istirahat dan bisa saja terlarut dalam permasalahan orang yang didampingi.

Bias dan prasangka seringkali tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya karena kurang dilandaskan atas fakta-fakta atau kenyataan yang sesungguhnya. Bias dan prasangka juga dapat menghambat kita dalam berinteraksi dengan orang lain.

Prasangka terbentuk karena:
• Kita menganggap bahwa semua orang dari latar belakang yang sama pasti memiliki ciri-ciri, sifat atau karakteristik yang sama. Misalnya, suatu saat kita tertipu oleh pedagang kaki lima, maka kemungkinan kita akan menilai semua pedagang kaki lima tidak jujur.

• Kita mempercayai sebuah informasi yang merupakan hasil interpretasi atau opini pribadi orang lain, bahkan opini media, BUKAN fakta yang sesungguhnya. Kepercayaan membabi-buta ini dapat terbentuk jika orang atau media yang berpendapat dipandang dapat dipercaya, padahal mungkin mereka tidak selalu benar. Misalnya, ayah kita menganggap orang dari etnis tertentu cenderung lebih suka berpesta daripada bekerja, karena saat berkunjung ke daerah di mana etnis tersebut kebanyakan berada, ayah diundang ke beberapa pesta. Kebetulan saat itu baru saja selesai musim panen dan penduduk sedang merayakan keberhasilan panen. Selanjutnya, mungkin kita dapat menganggap semua orang dari etnis tersebut memiliki sifat atau perilaku yang sama dalam segala kondisi.

Prasangka cenderung bersifat menetap karena:
• Lebih mudah bagi kita mempercayai apa yang sudah diyakini oleh banyak orang selama bertahun-tahun dibandingkan berpikir dan bersikap kritis.

• Tidak ada informasi lain atau pengalaman baru yang bertentangan dengan prasangka yang sudah kita miliki.

Apa efek prasangka terhadap diri kita khususnya dalam interaksi kita dengan orang lain? Prasangka dapat menyebabkan:
• Munculnya penilaian yang salah/ tidak dapat dipertanggungjawabkan terhadap orang lain.
• Kita memperlakukan orang lain secara berbeda/ diskriminatif, sehingga merugikan orang yang dikenai prasangka.
• Memudahkan munculnya kesalahpahaman dalam komunikasi antar individu.
• Menimbulkan konflik baik antar individu maupun dalam tingkat yang lebih luas, dapat memunculkan konflik antar kelompok.
• Menghambat pendampingan yang kita lakukan sehingga menjadi tidak optimal.

Bagaimana dengan pengalaman anda sendiri? Pengalaman apa yang pernah dialami karena memiliki prasangka tertentu pada orang dengan latar belakang tertentu?

Apa yang harus kita lakukan untuk mengurangi prasangka:

• Bersikap kritis terhadap penilaian diri sendiri dan informasi yang diterima dari berbagai pihak, baik dari media, orang yang kita percayai, atau orang lain.
• Mencari informasi lebih lanjut sebelum memberikan penilaian kepada seseorang atau sebuah kelompok.
• Mencoba memahami konteks atau situasi saat berinteraksi dengan orang lain. Misalnya, seseorang menjadi lebih mudah marah-marah karena ternyata ia sedang menghadapi masalah dengan suaminya.
• Melakukan “cek dan ricek” dengan sumber-sumber yang dapat dipercaya atau dengan yang bersangkutan secara langsung jika ada kesempatan.

     Sumber: Yayasan Pulih