EMPAT (4) HAK DASAR ANAK INDONESIA : Hak Hidup Lebih Layak - Hak Tumbuh dan Berkembang - Hak Perlindungan - Hak Berpartisipasi
Kamis
Aug, 24

Pelatihan Pemetaan Ketahanan Keluarga

Lokasi Kota Banda Aceh
Waktu 24 - 26 Aug 2017

Kamis, 24 Agustus 2017 - Oleh admin

PELATIHAN PEMETAAN KETAHANAN KELUARGA UNTUK KABUPATEN ACEH BARAT

DAN KABUPATEN BIREUEN TAHUN 2017

A. Pendahuluan
Peraturan Undang – Undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera menyebutkan bahwa Ketahanan keluarga berfungsi sebagai alat untuk mengukur seberapa jauh keluarga telah melaksanakan peranan, fungsi, tugas-tugas dan tanggungjawab dalam mewujudkan kesejahteraan anggotanya. Dimana peran penting keluarga tertera pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 1994 tentang Penyelenggaraan Pembangunan Keluarga Sejahtera. Selain itu ketahanan individu dan keluarga akan berakibat pada terjaminnya ketahanan masyarakat, dimana ketahanan keluarga menjadi penting untuk dilaksanakan dalam rangka mengurangi atau mengatasi berbagai masalah yang menghambat pembangunan nasional.

Ketahanan keluarga adalah kemampuan keluarga untuk mengelola sumber daya dan masalah yang dihadapi keluarga agar keluarga sejahtera yaitu terpenuhinya kebutuhan seluruh anggota keluarga. Ketahanan keluarga menurut UU No. 10 Tahun 1992 merupakan kondisi dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan, serta mengandung kemampuan fisk-material dan psikis mental spiritual guna hidup mandiri, dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dan meningkatkan kesejahteraan lahir dan batin. Mengapa Penting? Karena Keluarga merupakan unit dasar masyarakat yang berperan penting dalam menghasilkan SDM yang berkualitas dan Kapasitas keluarga mempunyai keberfungsian dan keberlangsungan masyarakat. Banyak masalah sosial yang terjadi berawal dari kegagalan/ketidakberfungsian keluarga sehingga menimbulkan berbagai implikasi sosial, ekonomi, dsbnya. Contoh: tawuran, kekerasan terhadap anak, seks bebas dan penyalahgunaan NAPZA di kalangan remaja, dll. Kompunen ketahanan keluarga yaitu:

1. Ketahanan Fisik
Ketahanan fisik berkaitan dengan kemampuan ekonomi keluarga yaitu kemampuan anggota keluarga dalam memperoleh sumber daya ekonomi dari luar sistem keluarga untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, perumahan, pendidikan dan kesehatan.

2. Ketahanan Sosial
Merupakan kekuatan keluarga dalam penerapan nilai agama, pemeliharaan ikatan dan komitmen, komunikasi efektif, pembagian dan penerimaan peran, penetapan tujuan serta dorongan untuk maju, yang akan menjadi kekuatan dalam menghadapi masalah keluarga serta memiliki hubungan sosial yang positif.

3. Ketahanan Psikologis
Kemampuan anggota keluarga untuk mengelola emosinya sehingga menghasilkan konsep diri yang positif dan kepuasan terhadap pemenuhan kebutuhan dan pencapaian tugas perkembangan keluarga.Kemampuan mengelola emosi dan konsep diri yang baik menjadi kunci dalam menghadapi masalah-masalah keluarga yang bersifat non fisik (masalah yang tidak berkaitan dengan materi seperti masalah kesalahpahaman, konflik suami dan istri, dsb).
Sedangkan fungsi keluarga: fungsi keagamaan, fungsi sosial budaya, fungsi cinta kasih, fungsi melindungi, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi, fungsi pembinaan lingkungan.

Keluarga memiliki tugas dasar, tugas perkembangan dan tugas krisis yang harus dijalani dengan sukses agar mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan. Kesejahteraan Keluarga dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materiil yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antar anggota dan antara keluarga dengan masyarakat dan lingkungan. Dan Keharmonisan keluarga yaitu kondisi keluarga yang menunjukkan interaksi antar anggota keluarga yang baik, selaras, serasi dan seimbang.Suasana keluarga yang ramah, akrab, hangat dan bahagia.

Oleh karena itu Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Pemetaan Ketahanan Keluarga untuk Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Bireuen yang akan diadakan di Banda Aceh Tahun 2017.

B. Tujuan Kegiatan
Tujuan Umum dalam kebijakan program fasilitasi Kader Pemberdayaan Masyarakat sebagai tenaga Motivator Ketahanan Keluarga (MOTEKAR) adalah menyatu-padukan pola pembinaan keluarga dan pemberdayaan perempuan yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup sejahtera lahir dan batin yang melibatkan partisipasi masyarakat dan lembaga terkait dalam semua tingkatan.

Tujuan Khusus dalam kebijakan program fasilitasi Kader Pemberdayaan Masyarakat sebagai tenaga MOTEKAR dalam pembangunan kesejahteraan keluarga di Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Bireuen antara lain:

1. Meningkatkan kualitas hidup keluarga pra-sejahtera menjadikan keluarga sejahtera di Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten           Bireuen.

2. Mengoptimalkan peran perempuan dalam ketahanan keluarga, baik dari aspek pendidikan, sosial, ekonomi, budaya, dan politik       agar memiliki keberdayaan diri dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

3. Mengembangkan pola-pola pengkaderan tenaga MOTEKAR sebagai Kader Pemberdayaan Masyarakat di tingkat kelurahan/desa       untuk memfasilitasi berbagai permasalahan dalam keluarga pra-sejahtera.

4. Mendorong sinergitas program fasilitasi Kader Pemberdayaan Masyarakat sebagi tenaga MOTEKAR dengan program lain yang           memiliki keterkaitan yang dilakukan SKPA pada tingkatan  pemerintahan provinsi dan kabupaten/kota.
5. Meningkatkan kapasitas pelaku masyarakat dan aparatur pemerintahan pada tingkatan desa/kelurahan di Kabupaten Aceh Barat     dan Kabupaten Bireuen.

C. Output Pelatihan
1. Meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan kesadaran serta berbagi peran dalam membangun keluarga sakinah                         mawadah dan warahmah.
2. Peserta mengetahui tugas dan fungsi dalam memenuhi kebutuhan keluarga sehingga dapat meningkatkan kualitas keluarga.

D. Pendekatan Kegiatan
1. Pelatihan ini menggunakan pendekatan Pendidikan Orang Dewasa (POD).
2. Dengan pendekatan ini setiap peserta dianggap sebagai narasumber bagi yang lainnya. Dianggap kaya dengan pengalaman dan       memiliki pemahaman yang baik dengan kondisi yang terjadi sehingga peran  fasilitator hanya “memfasilitasi” proses belajar,           berdiskusi dan praktik secara bersama.
3. Fasilitator bertindak memastikan proses berbagi pengalaman berlangsung dengan baik dan terarah. Penyampaian materi oleh         narasumber menjadi bekal awal untuk melanjutkan diskusi selama proses pelatihan berlangsung.

E. Peserta 

Peserta dalam pelatihan ini berjumlah 62 (enam puluh dua) orang berasal dari masyarakat Kabupaten Aceh Barat dengan jumlah peserta yang diundang sebanyak 30 (tiga puluh) orang kader desa dari 3 (tiga) kecamatan serta 1 (satu) orang penghubung dari Dinas Pemberdayaan Perempuan Kabupaten/Kota dan Kabupaten Bireuen dengan jumlah peserta yang diundang sebanyak 30 (tiga puluh) orang kader desa dari 3 (tiga) kecamatan serta 1 (satu) orang penghubung dari Dinas Pemberdayaan Perempuan Kabupaten/Kota.


F. Waktu Dan Tempat Pelaksanaan
    Hari : Kamis s.d Sabtu
    Tanggal : 24 s.d 26 Agustus 2017
    Pukul : 08.30 WIB s.d Selesai
    Tempat : Hotel Mekkah Jln. T. Daud Beureu’eh Lamprit – Banda Aceh

G. Narasumber dan Fasilitator
1. Nevi Ariani, SE (Ka. DPPPA Aceh)
2. Dra. Sri Hardina (Kabid. KHPK)
3. Dr. Ir. Herien Puspitawati, MSc. MSc (Narasumber Pusat)
4. Dra. Tin Herawati, SP, M.Si (Narasumber Pusat)
5. Dr. Inayatillah, M.Ag (UIN Ar-Raniry) Fasilitator
6. Darlina, S. STP, M. Si (Kasi. Kualitas Keluarga) Fasilitator


H. Penutup
Demikian Kerangka Acuan Kegiatan (KAK) ini disusun sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan Pelatihan Pemetaan Ketahanan Keluarga untuk Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Bireuen Tahun 2017.