EMPAT (4) HAK DASAR ANAK INDONESIA : Hak Hidup Lebih Layak - Hak Tumbuh dan Berkembang - Hak Perlindungan - Hak Berpartisipasi

Rakor Sinergitas Pencegahan Dan Penanganan Pornografi

Kategori : Bidang PPA Senin, 09 Juli 2018 - Oleh khairil

Banda Aceh, 09 Juli 2018 : Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak membuat Rapat Koordinasi Sinergitas Pencegahan dan Penanganan Pornografi di Aceh. Kegiatan tersebut dilaksanakan hari senin, 9 Juli 2018.

Bahwa Pornografi merupakan penyakit sosial yang sangat berbahaya karena dapat menyebabkan dekadensi moral, menipisnya kesusilaan dan norma-norma di masyarakat serta meningkatnya kriminalitas. Pornografi juga dapat mendorong seseorang untuk melakukan tindak kekerasan dan timbulnya perilaku seksual menyimpang seperti perkosaan, homo seksual, lesbianisme, machosisme, voyerisme necrofolia (hubungan seks dengan mayat) dan hemofilia (hubungan seks dengan anak-anak) karena pernah melihat hal tersebut di media massa dan internet.

Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi menyatakan bahwa pengertian Pornografi dalam arti luas adalah : Gambar, Sketsa, Ilustrasi, Foto, Tulisan, Suara, bunyi yang bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan dimuka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.

Pada Undang-undang tersebut juga dilarang berbagai bentuk jasa pornografi, yang secara umum diartikan sebagai segala jenis layanan pornografi yang disediakan oleh orang perseorangan atau korporasi melalui pertunjukan langsung, televisi kabel,televisi teresterial, radio, telepon, internet, dan komunikasi elektronik lainnya serta surat kabar, majalah, barang cetakan lainnya.

Selanjutnya, undang-undang tersebut juga disebutkan tentang “pornografi anak” adalah segala bentuk pornografi yang melibatkan anak atau yang menampilkan orang dewasa yang berperan atau bersikap seperti anak. Tindak pidana pornografi anak menyangkut segala bentuk tindakan yang berkenaan dengan pornografi secara umum, pornografi eksplisit, pornografi samar, dan jasa pornografi yang melibatkan anak dalam kegiatan dan/atau menjadi objeknya. Ancaman terhadap tindak pidana pornografi anak sebagaimana disebutkan dalam pasal 37 uu pornografi diperberat 1/3 (sepertiga) dari maksimum ancaman pidana masing-masing pasal pidana yang bersangkutan.

Kegiatan ini dilaksanakan selama satu hari dengan jumlah peserta 100 (seratus) orang yang dihadiri oleh para Kepala Instansi Vertikal, Kepala Dinas/Kantor Pemberdayaaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten/Kota, Organisasi Perempuan, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat, Penggerak PKK serta LSM/Organisasi Perempuan dan Anak.
Narasumber kegiatan terdiri dari dr. Trisa Wahjuni Putri, M. Kes (Kepala Pusat Analisis Determinan Kementrian Kesehatan), dengan materi “Pencegahan Pornografi Melalui Skrining”. Nevi Ariyani, SE (Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh), dengan materi “Kebijakan Pemerintah Aceh Dalam Pencegahan dan Penanganan Pornografi”. Serta Donny B.U, ST, M.Si (Tenaga Ahli Menkominfo bidang Literasi Digital) dengan Materi “Internet Aman dan Sehat”

Bahwa realita yang kita hadapi sekarang ini, kekerasan terhadap Perempuan dan Anak terus meningkat yang dapat kita katakan antara lain disebabkan oleh arus teknologi informasi yang canggih yang dapat diakses dengan mudah tanpa saringan yang dampaknya menjadikan sebagian anak-anak kita terpengaruh. akibatnya terjadi peningkatan kekerasan seksual, antara lain pemerkosaan, free seks, dan lain-lain, yang dapat merusak jiwa dan fisik serta menghancurkan generasi bangsa.
Memang Globalisasi dan perkembangan tehnologi informasi yang sangat pesat dan canggih dan didukung pula dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat dapat bersifat positif dan negatif, tergantung siapa yang memanfaatkannya. Bila dimanfaatkan untuk kebaikan, perkembangan tehnologi tersebut sangat membantu manusia kearah kehidupan yang positif. Akan tetapi, kenyataannya globalisasi telah mempengaruhi berbagai sisi dan menggeser nilai-nilai dalam