AKHIRI SEGALA BENTUK KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK DI ACEH

Pelatihan Tenaga Fasilitator “Pendampingan bagi Anak yang Berkebutuhan Khusus”

Kategori : Bidang PPA Selasa, 16 Oktober 2018 - Oleh admin

Banda Aceh. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh melakukan kegiatan Pelatihan Tenaga Fasilitator “Pendampingan bagi Anak yang Berkebutuhan Khusus”. Kegiatan dimulai dari tanggal 14 - 16 Agustus 2018. Kegiatan berlangsung di Hotel Arabia Aceh.

Peserta berjumlah 46 orang, terdiri dari Pendamping dan Guru Anak berkebutuhan khusus dan serta praktisi/pengajar Anak Berkebutuhan Khusus.

Bahwa perlu dikatehui semua orang tua menginginkan anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik, tak terkecuali orang tua yang memiliki Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Orang tua ABK seringkali merasa khawatir akan tumbuh kembang anak-anak mereka karena ABK beberapa hambatan disbanding anak-anak pada umumnya. Hambatan-hambatan tersebut membutuhkan strategi khusus untuk mengatasinya agar ABK bisa bertumbuh kembang secara optimal. 

Dapat dilihat bahwa Ciri tumbuh kembang anak yang optimal meliputi pertumbuhan sempurna (fisiologis, anatomi, dan biokimia) dan perkembangan fungsi organ. Perkembangan berjalan bersamaan dengan pertumbuhan. Pertumbuhan bisa dilihat dari ciri fisik, mulai dari gigi susu hingga munculnya tanda-tanda seks sekunder. Adapun perkembangan, dapat dicirikan dengan kemampuan berpikir, gerak, daya nalar, ingatan, dan asosiasi.

 

Dasar Hukum Pelaksanaan Kegiatan tersebut antara lain: Undang-undang Republik Indonesia No 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-undang No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak; Undang-undang Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Konvensi Hak-hak penyadang Disabilitas (Convention On Rights Of Persons with Disabilitas;). Undang-undang Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh; Undang-undang 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas; Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Konvensi Hak-hak Anak (Convension on the Rights of the Child); Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 10 Tahun 2011 tentang Kebijakan Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus serta Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2008 tentang Perindungan Anak.

Para orang tua dengan Anak Berkebutuhan Khusus tentu juga menginginkan ABK mereka berdaya pikir kuat. Tak jarang orang tua berlomba-lomba menemukan metode atau cara baku untuk meningkatkan kualitas intelegensia anak. Namun tidak ada satu metode pun yang dapat menjamin seratus persen anak menjadi lebih cerdas. Disamping memberikan nutrisi yang tepat, langkah paling jitu adalah memberikan stimulasi yang optimal dan tepat, salah satunya dengan mengajak anak bergerak. Pergerakan tubuh tak hanya mendorong  anak bereksplorasi atau bermanfaat bagi fisiknya, melainkan juga menstimulasi saraf otak anak.

 

Pergerakan tubuh sebagai stimulant otak merupakan pintu sebuah proses pembelajaran anak. Tehnik edukinesicology seperti Brain Gym,RMT dan  Building Block biasa digunakan untuk mengoptimalkan kerja otak anak berkebutuhan khusus. Penerapan tehnik ini  mengintegrasikan setiap bagian otak, sehingga membuka bagian otak yang sebelumya tertutup atau terhambat. Intervensi pada ABK sejak usia dini dengan menerapkan tehnik ini akan mampu mengoptimalkan potensi tumbuh kembang anak.

Kegiatan tersebut dilaksanakan bertujuan sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan bagi Pendamping dan praktisi agar dapat memberikan pelayanan yang tepat bagi Anak Berkebutuhan Khususnya. Diharapkan dengan pelatihan tersebut Agar Orang tua dan guru/terapis bisa memiliki pengetahuan dan keterampilan terkait dengan bagaimana membuat penanganan yang tepat untuk mengoptimalkan tumbuh kembang ABK.

Selama Kegiatan berlangsung, kegiatan di fasilitasi oleh Fasilitator dari Disdik DPPPA dan di fasilitator  Taufik Riswan selaku Pemerhati Anak dari lembaga Kappa Aceh.

 

Hasil yang diharapkan dari pelatihan yang dilakukan dapat Meningkatnya pemahaman Pendamping dan guru/terapis ABK tentang mengoptimalkan tumbuh kembang ABK dengan penanganan yang tepat serta Orang tua dan guru/terapis bisa menjadi fasilitator yang efektif bagi ABK dan memahami bagaimana membuat penanganan yang optimal untuk mengoptimalkan tumbuh kembang ABK.