Peringatan Hari Anak Nasional 2019 dilaksanakan Hari/Tanggal Selasa, 23 Juli 2019 Tempat Lapangan Karebosi, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan

Talkshow Perempuan dan Politik - Format Video

Kategori : Bidang DIGA Rabu, 03 Juli 2019 - Oleh khairil

Banda Aceh : Keterlibatan perempuan dalam politik masih terasa sangat rendah. Suara-suara Kartini muda kadang segelintir saja yang terdengar “gaung”-nya. Kalaupun ada, sering “kalah pamor” dari laki-laki. Itu karena sebagai perempuan, selalu tersubordinasi, termarjinalkan. Suara perempuan memang lantang, tapi akhirnya cuma menguap saja di forum-forum, rapat, diskusi, selalu merasa diremehkan.

Selain peran domestik (yang sebetulnya tidak perlu dibeda-bedakan), perempuan memiliki fungsi dan peran yang penting yang strategis dalam masyarakat. Peran dan fungsi ini selalu ramai diperdebatkan dalam forum diskusi aktivis, pegiat LSM. Kalau kita benar-benar mau mengikuti pemahaman gender, mengimplementasikannya dengan penuh kesadaraan untuk mencapai persamaan hak, maka perempuan juga bisa ber-politik. Namun demikian, untuk mencapai hal itu membutuhkan jalan panjang dan berliku-liku. Ada empat poin yang selalu menjadi permasalahan, yaitu: budaya patriarki, edukasi, motivasi, dan acceptancy(penerimaan).

Yang pertama adalah bagaimana bisa mendobrak kungkungan budaya patriarki yang pada prakteknya melemahkan, “merendahkan” tidak memberikan perempuan akses dan kesempatan untuk bisa menyuarakan hak-haknya dalam hal semisalnya: pengambilan keputusan dalam rapat, problem solving (bertindak sebagai pemberi solusi untuk memecahkan masalah), sebagai pemimpin, sebagai “juru kunci” dalam rapat yang pikiran dan pendapatnya patut didengar dan dihargai.

Yang kedua, edukasi yang berkaitan dengan budaya patriarki, yaitu keterbatasan perempuan untuk mengenyam pendidikan, keleluasaan kesempatan untuk duduk di bangku sekolah selalu diutamakan laki-laki. Capaian hasil pendidikan yang kemudian bisa terasa manfaatnya seperti: latihan kepemimpinan(leadership), pelatihan-pelatihan/pembekalan untuk menjadi seorang pemimpin dalam partai politik, calon legislatif, akademisi, fasilitator dalam pelatihan-pelatihan LSM. Jika indikator-indikator dalam bidang edukasi ini bisa dioptimalkan, maka perempuan akan tampil percaya diri, yakin akan bakat, kemampuan dan membuka ruang bagi perempuan lainnya untuk lebih semangat lagi memperjuangkan hak-haknya. Mengapa bisa menjadi semangat? Karena mereka akan tampil menjadi role model perempuan-perempuan yang berhasil.

Ketiga, motivasi di sini adalah adanya semangat bahu-membahu untuk saling menyemangati, saling support satu dengan yang lain. Adanya forum perempuan yang selalu “hidup” dan aktif membahas bagaimana perempuan juga bisa tampil sebagai seorang pemimpin. Siapa yang bisa saling menyemangati, tau secara persis kesulitan-kesulitan yang dihadapi kalau bukan perempuan sendiri. Perempuan harus lebih produktif dan berani jika memang ingin menyuarakan hak-haknya.

Keempat adalah acceptancy(penerimaan). Kebanyakan budaya yang ada di Indonesia, baik prakteknya pada tingkat mikro maupun makro sangat diskriminatif. Perempuan yang hadir dalam forum dan rapat hanya sebagai pemanis, penggembira saja. Diminta hadir agar supaya kursi bisa penuh dan memadati ruangan. Secara eksplisit dapat saya katakan, masyarakat memang masih “gagap diskusi”. Ketika perempuan bersuara, untuk haknya dan untuk kepentingan masyarakat, sering dianggap “sambil lalu” saja. Jika ditelusuri, ini kembali pada poin pertama, kedua dan ketiga. Pertama adalah karena budaya patriarki sendiri, dimana laki-laki masih sering meremehkan perempuan karena kedudukan “laki-laki nomor satu, perempuan nomor dua”. Yang kedua, sempitnya wawasan perempuan oleh karena tingkat pendidikan yang rendah sehingga belum mampu membedah permasalahan atau memberikan solusi dengan kritis. Ketiga, karena tidak ada, atau hanya satu-dua orang perempuan yang berani tampil, sebagai figur yang disegani dan diteladani.

Talkshow ini bisa menjadi inspirasi dan masukan bagi masyarakat dan perempuan pada umumnya agar memahami tentang politik dan perempuan.(Red_DIGA)