Sudah Banyak Korbannya, Maka Hentikan Sekarang Juga Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

Pelatihan Kekerasan Berbasis Gender bagi Aparat Penegak Hukum

Kategori : Bidang PPA Rabu, 16 Oktober 2019 - Oleh asmulyadi

Hotel Grand Arabia, Banda Aceh 15-16 Oktober 2019. Jumlah angka kekerasan terhadap perempuan dan anak terus mengalami eskalasi/meningkat tiap tahunnya, data yang terhimpun hanya sebahagiannya saja, sementara kasus lainnya yang lebih banyak tidak terlihat di permukaan dan sulit terdata.  Lembaga Bantuan Hukum (LBH) APIK Jakarta mencatat, sepanjang 2016  terdapat peningkatan pengaduan  masyarakat dari dua tahun sebelumnya. Pada 2014 sebanyak 709  kasus, tahun 2015 sebanyak 573 kasus, serta tahun  2016 sebanyak 854 kasus Tahun 2008 tentang Perlindungan Anak, dan lain-lain.

Pusat Pelayanan Terpadu dan Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Rumoh Putroe Aceh sepanjang tahun 2016 telah menangani kasus 2017 menangani 1.792 kasus dan tahun 2018 menangani 1.376 kasus kekerasan  dan tahun 2019 triwulan  ketiga sebanyak 508 kasus terhadap perempuan dan anak  di Aceh.

Eskalasi jumlah kasus kekerasan diiringi dengan semakin beragamnya modus operandi dan pihak-pihak yang terlibat. Peningkatan pengaduan selama kurun waktu dua tahun tersebut juga menjadi tolak ukur semakin meningkatnya kesadaran hukum masyarakat untuk melaporkan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Pada saat yang sama, perempuan dan anak juga menjadi kelompok masyarakat yang paling rentan dalam menghadapi akses terhadap keadilan.

Berdasarkan pada situasi tersebut, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPA) Provinsi Aceh akan menyelenggarakan pelatihan kekerasan Berbasis Gender bagi Aparat Penegak Hukum tentang penanganan kasus kekerasan yang responsif pada perempuan dan anak dengan bertujuan : (1). Meningkatkan pengetahuan dan perspektif peserta tentang penanganan kekerasan yang responsif perempuan dan anak. (2). Menguatkan pemahaman peserta tentang terobosan-terobosan hukum yang dapat mendukung rasa adil dan pemenuhan hak-hak perempuan dan anak korban kekerasan. (3). Menguatkan kepedulian peserta untuk melakukan upaya perlindungan dan pemenuhan hak perempuan dan anak korban kekerasan, setidaknya melalui lingkup Tupoksi masing-masing. dan (4). Menyusun rencana tindak lanjut peserta untuk penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Aceh.

Kegiatan ini akan menghadirkan narasumber yang kompeten, memiliki kapasitas dan pengalaman memadai terkait tema yang dibahas dalam pelatihan. Berikut nama dan jabatan narasumber, serta tema materi yang akan disampaikan oleh setiap narasumber dan Proses pelatihan ini akan dipandu oleh Nursiti SH, M.Hum dan Tim P2TP2A Provinsi sebagai Fasilitator.

Hasil yang diharapkan dari pelaksanaan kegiatan ini adalah: (1). Meningkatnya pengetahuan dan perspektif peserta tentang penanganan kekerasan yang responsif perempuan dan anak. (2). Menguatnya pemahaman peserta tentang terobosan-terobosan hukum yang dapat mendukung rasa adil dan pemenuhan hak-hak perempuan dan anak korban kekerasan. (3). Menguatnya kepedulian peserta untuk melakukan upaya perlindungan dan pemenuhan hak perempuan dan anak korban kekerasan, setidaknya melalui lingkup Tupoksi masing-masing, dan (4). Adanya rumusan rencana tindak lanjut peserta untuk penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Aceh. Red._DIGA